Selasa, 30 Juni 2015

Lanjut cerita saat Spelling Bee

Hari Seninnya, kami bertiga di tes saat pulang sekolah. Alhasil, Miss Tri bilang bahwa dia akan bicara pada pak Amar (Kepala Sekolahku) boleh enggak, kalau yang ikut tiga orang. Kalau boleh, nanti kami bertiga akan mengikuti lombanya. Kalau tidak boleh, ya, jadi hanya dua di antara kami yang akan ikut. Kami pun berlatih, namun tidak rebutan. Esok harinya, Miss Tri mendapat kabar dari pak Amar bahwa kami bertiga akan ikut. Aku sangat senang karena aku memang suka perlombaan. Kami semua berlatih giat hingga waktu lomba sudah di depan mata. Pertama-tama, kami diberikan nomor peserta. Setelah itu, kami menjalani babak pertama, yaitu menulis sama seperti yang Miss Tri ajarkan. Babak kedua pun begitu. Namun, sayang, Mbak Najma gugur di babak kedua. Karena aku tidak gugur, maka aku melaju ke semifinal bersama Mbak Syifa. Kami di Isolation Room  dulu, karena masih ada yang lomba. Jika kami dengar, maka... Kami akan tahu semuanya. Aku diberi nomor 4 dan Mbak Syifanomor 1. Di Semifinal nanti, ada 4 kursi yang diberikan. Itu berarti, kalau 1-4 akan bertanding. Aku bertanding melawan Mbak Syifa dan dua orang anak laki yang sepertinya dari Cahaya Bangsa. Aku duduk di kursi C. Mbak Syifa di kursi B. Aku kewalahan, hingga akhirnya aku gugur di Semifinal. Mbak Syifa melaju ke Final, dan akhirnya menang juara tiga. Sebelum itu, kami punya kenalan dari SD Muhamadiyah, namanya Mbak Syifa juga. Tapi, dia kelas enam. Sebelum pulang, kami diberikan masing-masing satu sertifikat. Kami juga diberikan hadiah, antara lain, jajan, kotak pensil, lem, dan pulpen. Tapi, pulpenku tidak bisa dipakai. Yah sudahlah,
Teman-teman, selesai sudah ceritaku saat lomba Spelling Bee bersama Mbak Syifa dan Mbak Najma di Cahaya Bangsa School, walaupun menegangkan, gak akan pernah aku lupakan,

Selasa, 16 Juni 2015

Hai, ketemu lagi nih, sama aku. Aku akan menceritakan pengalamanku saat pentas di panggung Milad IX SDIT Wahdatul Ummah. Aku bersama teman-temanku di English Club, kecuali mbak Syifa, karena dia sudah mengikuti drama besarnya. Dan juga Icha, karena dia sudah menjdai narator Milad. Jadi, dia tidak ikut, deh! Kami tampil menggunakan bahasa Inggris, yang pasti harus dihafalkan dong! Jadi, awalnya aku dapat peran sebagai antagonis, peranku sebagai orang jahat yang suka menghina orang yang tak lain adalah Uwais Al-Qarni. Namun, peranku diganti dengan seorang temanku bernama Ashfa. Peran Ashfa menjadi anak nakal yang tidak mau bangun tidur dan bandel. Ibuku sendiri adalah mbak Najma, lihat ya, alur ceritanya!
Pertama, ada mbak Anggun yang menjadi anak baik dan taat pada ibunya. Saat itu, ibunya mbak Anggun mencari mbak Anggun. Namun, ibunya mbak Anggun menemukan anaknya sedang berdo`a untuk kedua orangtua. Namun, artinya tetap memakai bahasa Inggris lho! Stelah itu, aku dan mbak Najma beraksi. Disana, aku tidur menggunakan sebuah boneka dan sebuah selimut. "Oh my God, Mitha, wake up, your`e late already. Don`t you go to school? Wake up Honey," mbak Najma membangunkanku karena perannya saat itu menjadi ibuku. "Mmmh, mom, i`am so sleepy!" aku membentak ibuku. "Don`t you go to school?" ibuku bertanya. "It still morning mummy," aku berkata pada ibuku. "Don`t you pray Shubuh? It`s a half past five already" kata mbak Najma. "Mmmh!" aku kesal dan pergi dari hadapan ibuku. Sebenarnya, dibelakang panggung itu ramai. Jadi, pas seharusnya aku bilang "Mom, i wanna go to school" itu aku nya tidak ada. Lalu, jaket yang kupakai juga belum di lepas. Aku pura-pura kesal. Namun, aku tak bisa menahan tawaku dari para penonton. Dan, mulailah perkataanku : "It such a bad day! I`m free, i can do everything i want! This is me! She has to understand me! Uuuh!!" aku merengut kesal dan saat itu, kakak kelasku datang. "What`s going on?" tanya mbak kelasku bernama Najwa. "I`m bored in the house" jawabku. "Are you ok? Is there something trouble?" mbak Najwa bertanya lagi. Dan, saat itu, temanku bernama Muthia datang membawa candaan. "It looks you have a trouble in your life. Do you want to see One Direction?" Muthia berkata padaku. Karena aku sedang kesal lalu dipermainkan, wajahku semakin masam. "Haha, just forget it Mitha, you will not meet him. He nevere what about you!" ledek Syafiq, teman laki-laki ku. 
Sudah ya, tanganku sudah pegal nih!

Halo, apa kabar semuanya? Aku mau kasih tahu nih, cerita tentang Spelling Bee di Cahaya Bangsa School. Memang, sudah lama, sih. Tapi, masih tetap kuingat sampai sekarang. Mulai saja ya, ayoo

Saat itu adalah hari Sabtu. Karena aku ikut eskul English Club, jadi, aku dan teman-temanku di English Club di seleksi untuk mengetahui siapa yang pantas untuk lomba nanti. Seleksi yang pertama, kami disuruh ambil kertas satu satu. Setelah itu, kami menulis apa yang Miss Tri ucapkan, misalnya :
"Guide" setelah Miss Tri bilang, kami langsung menulisnya dikertas tersebut hingga selesai. Saat selesai, kami diambil yang nilainya diatas 9. Nilaiku sendiri adalah 12. Jadi, aku tidak tersingkir, deh! Seleksi yang kedua masih sama dengan seleksi yang pertama, hanya saja bukan semuanya yang ikut, namun yang belum tersingkir tadi. Seleksi ketiga nya pun begitu. Aku juga belum tersingkir. Saat seleksi yang terakhir, kami harus mengeja, dan juga cepat-cepatan tunjuk tangan. Aku bersama dua kakak kelasku, namanya Asy-Syifa Dhea Salsabila (Syifa) dan Najma Auly (Najma). Aku kewalahan, hingga akhirnya Miss Tri mengumumkan bahwa mbak Syifa lah yang sudah pasti ikut lomba. Sementara aku dan mbak Najma masih bertarung. Akhirnya, seleksi terakhir pun dilanjutkan esok harinya, yaitu hari Senin.
Mau tahu kelanjutannya? Tunggu di part 2 ya!

Senin, 15 Juni 2015

Hai, kalian sudah punya belum, Fantasteen, judulnya "Haunted School : Kau Yakin Sekolahmu Aman?"
Kalau belum, lihat sinopsisnya ya!

Steven mengajak teman-temannya membuka pintu yang selama ini tak pernah dibuka. Dia memberanikan diri  mengungkap rahasia terpendam yang ada di sekolahnya. Selama ini, penghuni sekolah selalu diganggu. Selama ini pula, Steven mengumpulkan keberanian.

Sayang..., ketika pintu telah dibuka, Steven dan teman-temannya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat bergerak sedikit pun. Hanya mampu berteriak ketika sebuah pisau mengancam keselamatan mereka. 

Beruntunglah seseorang datang menjadi pahlawan. Siapakah dia? Mampukah dia menyelamatkan Steven dan teman lainnya? 
Kalian, sudah punya, belum, buku Fantasteen, Teru Teru Bozu. Nyesel lho, kalau belum punya. Bagus, deh, bukunya! Oh ya, aku kasih sinopsis Teru Teru Bozu ya!

Kamu pernah mendengar tentang Teru Teru Bozu?
Atau kamu menggantung satu boneka itu di depan jendela kamarmu? Tentunya kamu tahu untuk apa benda itu ada disana. Namun aku yakin, kamu tidak pernah menyangka cerita mengerikan apa yang bisa Teru Teru Bozu hamparkan di hadapanmu. Kamu mungkin akan terkesiap ketika tahu Teru Teru Bozu di sekolahku punya kisah yang berbeda. Lupakan Teru Teru Bozu sebagai boneka penghusir hujan.
Di sekolahku, Teru Teru Bozu meminta nyawa. Kalau kamu berani membaca buku ini, kamu harus siap menemukan sesosok tubuh tersembunyi dibalik kain putih yang berkibar. Bukan isian bulu angsa atau kain perca.

Minggu, 14 Juni 2015

                                    Ghost In The Library (Part5)
"Richie? Kok Richie ada di kelompok kita, Vell?" tanyaku. Vellissa tertawa. "Hahaha, jadi kamu belum tahu, dikelas, ada dua orang anak bernama Richie. Yang satu Richie Rich, yang satu Richie Fernando. Jika Richie Rich tidak ada, maka kami memanggil Richie Fernando Richie!" jelas Vellissa. "Ada apa, sih, manggil-manggil aku?" Richie keluar. "Hm, tidak ada apa-apa. Ayo, kita ke kamar!" ajak Vellissa. Kami mengangguk. "Kenapa lama sekali datangnya?!" tegur Marco. Dia terkenal agressif, tegas karena dia adalah ketua kelas. "Ma..maaf," aku meminta maaf. "Sebagai hukuman karena terlambat, kamu harus berdiri dengan mengangkat satu kaki sampai kami selesai!" katanya. "Aduuh, Marco! Kamu ini apa-apaan sih? Dia itu anak baru, belum mengerti apa-apa. Memangnya kamu siapa? Ketua kelas?!" Vellissa berdebat. Aku kaget melihatnya berkata bahwa Marco bukan ketua kelas. "Maaf, Viona. Dia memang suka berbohong," katanya. Aku menganggukkan kepala.

*******
"Assalamualaikum, ma, aku pulang!" teriakku saat menginjakkan kaki di lantai rumah baruku. "Iya, nak, ganti baju, makan siang, lalu tidur siang!" syarat mama. "Oke ma!" jawabku.

*******
Ini menunjukkan pukul 19:00 WIB, jam tujuh malam. Aku pergi ke perpustakaan dan memulai belajar sendirian. Tiba-tiba, ada sebuah buku jatuh sendiri tanpa ada yang menjatuhkannya. Disini hanya ada aku seorang dan angin tidak terlalu kencang. Kutaruh buku itu dan kembali belajar. Angin dingin berhembus mengenai kulitku. "Brr! Dingin sekali!" gumamku. Pantas saja, jendelanya terbuka. Namun, bagaimana bisa terbuka? Aku sendiri melihat jendela itu tertutup. Kututup lagi jendela itu dan bergegas pergi ke kamar karena jam sudah menunjukkan jam 21:00.

Udah ya, belum ada ide lagi nih!